Kepekatannya yang muram, hawa dinginnya yang menusuk, sama sekali tak dapat
mengalahkan rasa dukanya. Hatinya diselimuti awan kelabu. Bagaimana tidak? Dulu
sang malam adalah makhluk istimewa, melalui dirinyalah mutiara dan berlian
kehidupan tersingkap dan doa-doa
terijabah.
Tapi kini, taburan mutiara dan kilauan berlian itu
berhambur, tersia bersama dengkuran pecinta-pecinta dunia. Kini, dengan hati
yang terkecewa dengan sangat, sang malam ingin sampaikan tentang dirinya pada
manusia-manusia itu. Pada setiap manusia yang memeluk erat bantal dan
gulingnya, bergeliat manja dibalik selimut-selimut hangatnya. Bersembunyi
dibalik rapat pintu kamar mereka.
Padahal sang malam telah menyerukan dibalik keheningan dan
kepekatannya bahwa dialah pembawa cinta suci Allah dan Rasul-Nya. Pembawa pesan
dari Rasululullah Muhammad bahwa Sesungguhnya di surga terdapat sebuah kamar
yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar.
Yang disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang memerlukannya,
menyebarkan salam serta mendirikan sholat pada saat manusia terlelap dalam
tidur malam.
